Author : Zakiyal Fikri Mochamad, M. Ag
Salah satu polemik teologi yang terus bergulir sampai hari ini ialah persoalan muhkam-mutâsyabih dalam Al-Qur’an. Tidak hanya para ulama ahli kalam yang paling banyak mendiskusikannya, para mufasir lintas mazhab juga turut serta memberikan komentar untuk isu sensitif satu ini. Bagaimana tidak, terpecahnya Islam hingga menjadi beberapa aliran teologi seperti Muktazilah, Qadariyyyah, Jabariyyah, Ahlu Sunnah salah satunya ditengarai oleh perdebatan mereka mengenai status dan pemaknaan ayat muhkam-mutâsyabih tersebut. Dari situlah, aliran-aliran tafsir (baca: mazâhib al-tafsîr) dengan kecenderungan penafsiran (baca: alwân al-tafsîr) mencuat begitu kuat antara satu mufasir dengan lainnya.
Di antara mufasir yang cukup sengit mendiskusikan persoalan ini ialah Fakhr al-Dîn al-Râzî (w. 606 H) dan Qâdlî ‘Abd al-Jabbâr (w. 415 H). Kedua mufasir ini dikenal sebagai teolog yang membawa identitas dan manhaj tafsir yang berbeda. Al-Râzî lahir dari aliran Asy‘âriyyah atau Sunnî yang lebih moderat dalam memahami nash-nash Al-Qur’an, sedangkan Qâdlî ‘Abd al-Jabbâr dari Muktazilah yang lebih banyak memberikan porsi akal dalam mendekati teks Al-Qur’an.
Untuk itu, hadirnya buku ini ialah untuk mendiskusikan konsepsi dan kaidah yang diusung oleh keduanya dalam memahami ayat muhkam mutasyabih secara lebih luas, khususnya untuk ayat-ayat sifat, huruf muqatha’ah dan persoalan ru’atullah. Ketiga topik tersebut akan diulas secara mendalam berdasarkan pandangan masing-masing keduanya dalam tafsir Mafâtih al-Ghaib dan Tanzîh al-Qur’ân ‘an al-Mathâ’in. Bagaimana kategorisasi muhkam-mutâsyabih al-Râzî dan ‘Abd al-Jabbâr?. Takwil yang seperti apa yang digunakan dalam memahami ayat-ayat mutsyâbihât?. Bagaimana pandangan mereka berdua mengenai huruf-huruf muqatha’ah dan ayat ru’yatullah? Serta sejauh mana keterpengaruhan mereka berdua akan doktrin teologi yang dianutnya dalam memahami semua topik muhkam-mutâsyabih tersebut?. Jawabannya ada di dalam buku sederhana ini.